Kamis, 27 Februari 2014

MUTU IKAN NILA


Ikan nila (Oreochromis niloticus) yang digunakan berukuran 100-120 g diberi kombinasi perlakuan cara mati (mati ditusuk dan menggelepar) serta penyiangan (disiangi dan tanpa disiangi). Ikan disimpan pada suhu chilling (0-5oC) dengan menggunakan perbandingan es curai dan ikan yaitu 1:1 selama 12 hari. Penelitian pendahuluan dilakukan untuk mengetahui perubahan mutu ikan pasca kematian. Pada penelitian utama dilakukan pengukuran tingkat kesegaran ikan dengan parameter uji organoleptik, uji total volatil base (TVB), total plate count (TPC), dan pH.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses kemunduran mutu ikan nila dengan perlakuan A1B2 (mati ditusuk, penyiangan) pada penyimpanan suhu chilling (0-5oC) berlangsung lebih lambat dibandingkan dengan perlakuan A1B1 (mati ditusuk, tanpa penyiangan), A2B1 (mati menggelepar, tanpa penyiangan), dan A2B2 (mati menggelepar, penyiangan).  Perlakuan cara mati ditusuk dan penyiangan merupakan cara yang efektif untuk  memperlambat proses kemunduran mutu ikan nila sehingga masa simpannya lebih lama.
Berdasarkan hasil uji obyektif (TPC, pH, dan TVB) dan subyektif ikan nila perlakuan A1B2 (mati ditusuk, penyiangan) dan A2B2 (mati menggelepar, penyiangan) dapat dikonsumsi sampai pada hari ke-10.  Sedangkan A1B1 (mati ditusuk, tanpa penyiangan) dan A2B1 (mati menggelepar, tanpa penyiangan) dapat dikonsumsi sampai pada hari ke-8.